Membangkitkan Reaktor Energi Ketakberhinggaan

February 15, 2006

Adalah Bilal. Ketika tubuh legamnya dipanggang di tengah hamparan pasir membara kota Makkah, ditindah batu besar membara pula, seraya dikatakan padanya, “Demi Alllah, kamu akan terus begini sampai mati, atau kamu ingkar kepada Muhammad dan menyembah Lata dan Uzza.”Telah masyhur bahwa kemudian sepasang bibir mulianya tidak berucap melainkan hanya “Ahad…ahad… .” Sampai kemudian Abu Bakar membelinya dari majikannya (Umayyah bin Khalaf) kemudian membebaskannya.
Adalah Fatimah binti Kkath-thab. Tatkala hardikan Umar seraya meraih kasar kepalanya mengusik tilawahnya bersama Khabbab dan suaminya. Bahkan saat sejurus kemudian gamparan keras tangan perkasa kakaknya itu menyungkurkannya bersimbah darah. Bukan tangisan wajar seorang adik perempuan kesayangan yang keluar, pun bukan harap menghiba penuh kelemahan. Fathimah bangkit kemudian balas meraih kepala Umar dan
berkata tegas, “Sekalipun kau tidak menyukainya!!!”

Adalah keluarga Yasir. Saat Abu Jahal mengetahui keislaman mereka, ia
mengajak kaumnya membawa keluarga syuhada’ ini dan menjemurnya dibawah sengatan terik mentari kota Makkah. Ketika Rasulullah SAW melewati mereka, meluncurlah kalimat agung itu, “Bersabarlah keluarga Yasir, sesungguhnya kalian dijanjikan surga!” Akhirnya , Yasir syahid karena kerasnya siksaan, sedangkan istrinya (Sumayyah) ditusuk duburnya dengan parang oleh Abu Jahal hingga meraih syahadah perdana dalam Islam.
Amar tak mau ketinggalan. Bercucuran air matanya mengiringi harap maafnya, dalam pengaduannya kepada Rasululah SAW, perihal `ketidak-sabarannya’ menanggung siksaan. Tatkala Abu Jahal bertanya kepadanya, mengiringi penyiksaan yang tak lagi berperi. ” Latta dan Uzza adalah tuhanmu selain Allah!” Dengan penuh keterpaksaan bibirnya bergerak,”Ya”. Sampai ketika ketika ada kumbang melintas, ditanyakan pula kepadanya, “Apakah kumbang itu tuhanmu selain Allah?” Ia juga menjawab, “Ya!” Maka tak cukup Muhammad SAW yang menjawab air matanya, bahkan Allah-pun kemudian berfirman:
“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (dia tidak berdosa)… . “(An Nahl 106).

Ada apa dibalik ketegaran Yasir dan Sumayyah yang berbuah kesyahidan ? Apa pula yang meneguhkan Fathimah binti Khath-thab hingga berakhir dengan masuk Islamnya Umar ? Juga keteguhan Bilal menanti pertolongan Allah via Abu Bakar ? Atau kokohnya hati Amar (meskipun bibirnya dipaksa goyah) hingga Allah-pun langsung memberikan rukshah kepadanya? Reaktor energi apa gerangan yag sanggup men-suplai daya luar biasa dalam keadaan disumbatnya segenap pemantiknya ?

Energi itu bernama iman …….

Adakah selain iman, yang sanggup meyakinkan sebuah keluarga, `hanya’ dengan sepenggal kalimat : “Bersabarlah keluarga Yasir, sesungguhnya kalian dijanjikan surga!”

Adakah selain iman, yang mampu menguatkan hati seorang Fatimah, untuk
meraih kepala Pendekar Kaumnya (Umar) yang juga kakaknya, kemudian
digoncangkannya keras seraya ditegaskannya, “Sekalipun kau tidak
menyukainya!!!”

Dan adakah selain iman, yang dapat meneguhkan seorang Bilal, untuk
terus berucap , “Ahad….ahad….” meskipun harus gosong dada dan
punggung, walaupun mesti menanggung sabetan cambuk ?

Reaktornya adalah muraqabah (baca : kekokohan maknawiyah)

Tentunya bukan sekedar kebetulan, jika syaikh Munir al Ghadban dalam Manhaj Haraki-nya mencantumkan karakteristik ke-9 (untuk fase Jahriyatud-dakwah dan Sirriyatut tandhim) yakni `Menekankan pada Aspek Spiritual’ sebelum karakteristik ke-10, yaitu `Membela Diri dalam Keadaan Darurat’ dan karakteristik ke-11, `Sabar Menanggung Siksaan dan Penindasan di Jalan Allah’.

Maka, ketika tilawah satu juz per hari masih sering ter-utang, qiyamullail 3x sepekan jarang terpenuhi, dzikir pagi dan petang masih menunggu sempat, pun lagi hafalan yang tak maju-maju, shoum sunnah yang tak lagi mampu mencegah, apa yang bisa diperbuat oleh kaum semacam ini ? Dapatkah mereka mencetak karya besar ? Ataukah mereka malahan akan menjadikan kecil, apa yang dijadikan Allah sudah besar ? Amat dalam menukik, ketika Ustadz rahmat Abdullah menyindir :
`Kadang orang merasa ada dinamika dalam sejarah dan ia menontonnya
tanpa berfikir ia sendiri mampu menjadi aktor sejarah. Inilah thufailiyat (sifat kekanak-kanakan) yang betapapun usia fisik telah jauh di ambang tua, namun fikiran pemiliknya tertinggal di masa lalu yang lugu, mentah, dan khas kanak-kanak.’ (Rahmat Abdullah, Untukmu Kader Dakwah 47-4

Atau kemudian, kalaupun sebagiannya terpenuhi, tapi semua tak lebih dari sekedar pen-tunai-an kewajiban, yang bahkan terkadang terasa sekedar `perintah’ dari sesama makhluk. Ia kering dari kebersamaan hati, pun jua dari kebersatuan jiwa, yang ada hanyalah :
Raga bergerak tanpa jiwa,
tanpa rasa Menapaki hari-hari dengan payah yang kian bertambah
Dunia menguasai jiwa Kemuliaan luruh bersama tetes-tetes peluh kehinaan Manusia jatuh dalam lembah nadzir kehinaan
Dan kematian hati kian mendekat
Dan kemuliaan jiwa kian sulit melekat….
(Izzatul Islam-Kembali)

Keluh memenuhi segenap aktivitas, kesah menghiasi setiap langkah.

Maka kembalilah kepada-NYA……

Pabila Allah Tercinta sang lawan bercakap, satu juz sehari belum akan
menuntaskan dahaga rindu. Pabila Allah tempat menggantungkan harap, 3 kali sepekan belum akan mampu menampung seluruh problema. Jikalau tenangnya hati karena mengingatnya telah sungguh terwujud, tentulah hati tak puas jika hanya tenang di waktu pagi dan sore hari saja. Jikalau…jikalau…, dan jikalau… .

Jangan rela menjadi mereka :
`Belakangan datang generasi yang tak merasakan lelahnya berkurban di zaman awal islam, saat Muhajirin dan Anshor bahu membahu membangun masyarakat baru Madinah dan tidak menjadikan Islam sebagai wacana teoritik belaka. Mereka tak merasakan makan daun perdu padang pasir yang membuat luka kerongkongan dan remah mereka menjadi sama dengan kotoran kambing dan unta. Mereka tidak merasakan blokade tiga tahun di Syi’b Abi thalib, pergi meninggalkan tanah air atau disita harta dan dibunuhi keluarga mereka.’ (Rahmat Abdullah, Untukmu Kader Dakwah 4

Dan jangan pula hanya jadi pengagum (tanpa berbuat), dari kegemilangan mereka :
`Sesungguhnya pada generasi sebelum kamu, ada yang disisir dari sisir besi yang menancap ke bawah tulang, daging atau syarafnya. Semua itu tak mengalihkan mereka dari agama.’ (Rahmat Abdullah, Untukmu Kader Dakwah 50; kutipan dari Fiqh Sirah 106, Al Buthy)

Akhirnya, ketika ikhtiar telah maksimal dan doa tlah khusyuk terpanjat, pun masih ada keluh, masih hinggap kesah, memang Allah mengakuinya sebagai fitrah :
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.” (Al Ma’arij 19-20)

Namun mukmin sejati tak akan rela menjadi nomor dua. Mukmin sejati takkan bergembira karena tertinggal dari kesertaan berkurban, betapapun udzur memberi mereka rukshah (keringanan), sehingga:
“…, lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata
karena kesedihan, lantaran mereka tidak mendapatkan apa yang akan
mereka nafkahkan (biaya angkutan berperang). (At Taubah 92)

So, mari berbuat, penuh semangat, cintakan akhirat …………………………………..

Allahu Akbar, Allah Maha Besar
Majulah wahai barisan jihad
Ummat mulia warisan ambiya
Cintakan akherat zuhudkan dunia
Cintakan akherat zuhudkan dunia
(Izzatul Islam-Barisan Jihad)

__________________________________________________ ____________
Mari mendekat pada Allah lebih Dekat
Agar tunduk saat yang lain Angkuh, Agar teguh saat yang lain Runtuh, Agar tegar saat yang lain terkapar

“Qul Aamantu billahi Tsummastaqim - “Katakan aku beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah” (HR. Muslim)

Sumber :Unknown

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://gusti.blogsome.com/2006/02/15/membangkitkan-reaktor-energi-ketakberhinggaan/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>